Tanjungpinang – Komitmen dalam mengembangkan kajian Al-Qur'an berbasis kearifan lokal kembali diwujudkan oleh Dr. Mochammad Novendri S dan team melalui penelitian bertajuk "Model Integrasi Tafsir Sosial-Budaya dan Local Wisdom Melayu untuk Pelestarian Identitas Qurani Pulau Penyengat: Studi Living Qur'an pada Manuskrip dan Tradisi Tunjuk Ajar." Penelitian ini berlangsung selama sepekan, mulai 29 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Penelitian tersebut bertujuan merumuskan integrasi antara nilai-nilai Al-Qur'an dengan kearifan lokal masyarakat Melayu sebagai upaya memperkuat pelestarian identitas Qurani di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial. Pulau Penyengat dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam, sastra Melayu, dan tradisi intelektual Nusantara, khususnya sebagai pusat Kesultanan Riau-Lingga yang melahirkan berbagai manuskrip keislaman dan tokoh-tokoh besar Melayu.
Selama pelaksanaan penelitian, tim melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, budayawan, pengelola situs sejarah, serta masyarakat setempat. Selain itu, penelitian juga menelaah berbagai manuskrip Al-Qur'an dan tradisi budaya Melayu yang masih terpelihara hingga saat ini sebagai bagian dari pendekatan Living Qur'an.
Ketua tim peneliti menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan manuskrip Al-Qur'an di Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai Qurani yang terintegrasi dengan budaya Melayu. Tradisi penyalinan Al-Qur'an, penggunaan aksara Arab-Melayu (Jawi), serta ornamen khas Melayu menjadi bukti nyata bagaimana Islam berkembang melalui pendekatan budaya yang harmonis tanpa menghilangkan identitas lokal masyarakat.
"Manuskrip Al-Qur'an di Pulau Penyengat memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam telah menyatu dengan budaya Melayu selama berabad-abad. Manuskrip bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang membentuk karakter, pendidikan, dan identitas mereka," jelas ketua tim peneliti.
Selain mengkaji manuskrip, penelitian ini juga menemukan bahwa tradisi Tunjuk Ajar Melayu merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sosial masyarakat. Berbagai petuah adat yang diwariskan secara turun-temurun mengandung prinsip-prinsip Islam seperti kejujuran, amanah, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab sosial, serta semangat menjaga persaudaraan.
Melalui pendekatan tafsir sosial-budaya, penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal dapat menjadi media yang efektif dalam mentransformasikan pesan-pesan Al-Qur'an kepada masyarakat. Integrasi tersebut menghasilkan model pendidikan karakter yang tidak hanya berorientasi pada aspek normatif keagamaan, tetapi juga memperkuat identitas budaya Melayu sebagai bagian dari peradaban Islam Nusantara.
Selama proses penelitian berlangsung, masyarakat Pulau Penyengat memberikan sambutan yang sangat positif. Tokoh masyarakat, ulama, budayawan, hingga generasi muda menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan penelitian dan memberikan akses kepada tim untuk mendokumentasikan berbagai manuskrip, tradisi, serta praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Respon positif tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat memiliki kesadaran yang kuat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya Islam sebagai identitas bersama. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa Pulau Penyengat masih menjadi pusat pelestarian tradisi Melayu-Islam yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan kajian Al-Qur'an di Indonesia.
Penelitian ini juga menghasilkan sebuah model konseptual mengenai integrasi tafsir sosial-budaya dengan local wisdom Melayu yang dapat diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis budaya, pelestarian manuskrip Islam Nusantara, penguatan moderasi beragama, serta penyusunan kebijakan pelestarian warisan budaya Islam.
Tim peneliti berharap hasil penelitian ini tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata, tetapi dapat menjadi referensi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, pegiat budaya, dan masyarakat dalam mengembangkan model pelestarian identitas Qurani yang kontekstual dan berkelanjutan.
Kegiatan penelitian ini terlaksana atas dukungan pendanaan dari IOU Indonesia, yang memiliki komitmen dalam mendorong pengembangan riset-riset strategis di bidang studi Islam. Dukungan tersebut memungkinkan terlaksananya penelitian lapangan secara komprehensif sehingga menghasilkan temuan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan Living Qur'an, tafsir sosial-budaya, dan pelestarian kearifan lokal Melayu.
Melalui penelitian ini, kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan penelitian yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pelestarian warisan intelektual Islam dan penguatan identitas budaya bangsa. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu pijakan dalam memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai laboratorium peradaban Melayu-Islam sekaligus pusat pengembangan kajian Al-Qur'an berbasis budaya di Indonesia.
Tanggal: 2026-04-18 11:45:00