IAI IMSYA INDONESIA











Mahasiswa Institut IMSYA Indonesia Paparkan Solusi Fenomena Fatherless di Forum Internasional

Padang, 22 Oktober 2025 — Mahasiswa Institut IMSYA Indonesia, Amanda Aurellia dan Fenia Rahmadita, hari ini mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam ajang 6th UIN Imam Bonjol International Conference on Islamic Education (IBICIE) yang berlangsung di UIN Imam Bonjol Padang. Dalam forum ilmiah bertema “Exploring Local Wisdom for Islamic Education Quality: Innovation and Tradition in the SDGs Era”, keduanya membawakan karya berjudul “Reaktualisasi Parenting Education dalam Perspektif Ayah: Solusi Fenomena Fatherless dalam Kisah Nabi Ibrahim”

Penelitian tersebut mengangkat isu sosial yang kian marak di masyarakat modern, yaitu fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah baik secara fisik maupun emosional dalam pendidikan anak. Berdasarkan data nasional yang dikutip dari CNN Indonesia (2025), lebih dari 15 juta anak Indonesia mengalami krisis figur ayah, yang berdampak langsung terhadap pembentukan karakter, moral, serta spiritualitas anak. Dalam paparannya, kedua mahasiswa IMSYA menegaskan bahwa Al-Qur’an, melalui kisah Nabi Ibrahim -‘alaihissalam-, telah menawarkan solusi pendidikan keluarga yang ideal berbasis nilai-nilai tauhid dan kasih sayang ayah terhadap anak.

Dengan menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu‘i) terhadap ayat-ayat seperti QS. Maryam: 41–48, QS. As-Saffat: 100–107, dan QS. Al-Baqarah: 125–129, penelitian ini menemukan bahwa peran ayah dalam Islam mencakup aspek spiritual, moral, dan emosional. Nabi Ibrahim dijadikan teladan karena berhasil memutus rantai fatherless yang dialaminya dan justru menjadi sosok ayah yang penuh kasih, sabar, dan komunikatif. Nilai-nilai ini dinilai sangat relevan untuk diaktualisasikan dalam konteks keluarga modern yang menghadapi tantangan disrupsi nilai dan teknologi.

Amanda dan Fenia menyimpulkan bahwa pendidikan ayah harus dimulai dari pembentukan keteladanan, komunikasi yang lembut, penanaman akidah sejak dini, serta doa dan keterlibatan aktif dalam perkembangan anak. “Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik spiritual dan emosional bagi anak-anaknya,” ungkap Amanda dalam presentasinya.

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dengan dosen pembimbing Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A, Dewi Sartika, M.H, dan Dr. Mochammad Novendri S, M.H. Kepala LP2M Institut IMSYA Indonesia, Delima Afriyanti, S.E., M.E, memberikan apresiasi atas keberhasilan tim mahasiswa tersebut. Ia menyebut bahwa keikutsertaan mahasiswa IMSYA dalam konferensi internasional ini menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi Islam mampu berkontribusi aktif dalam menjawab persoalan sosial kontemporer melalui kajian ilmiah yang berakar pada Al-Qur’an dan nilai-nilai keislaman.